Danau Kembar yang Memukau

Panorama alam selalu memukau, siapapun yang melihatnya. Para pecinta alam seperti saya sangat haus dengan keindahan alam di tempat-tempat baru. Apalagi di Sumatera Barat, dimana masih banyak tempat wisata yang belum terekspos oleh media, seperti beberapa tempat di Danau Kembar yang terletak di daerah Alahan Panjang, kabupaten Solok. Saat itu saya melakukan perjalanan bersama keluarga, maklum saya masih sering dibawa keluarga dan bokek, jadi jarang bisa pergi jalan-jalan sendiri.

Memasuki perbatasan kota Padang dan kabupaten Solok, saya dan keluarga diserang hawa dingin. Maklum waktu itu cuacanya berawan, jadi banyak kabut di jalan mendaki dan melingkarnya. Jalanan yang saya lalui berbukit, dengan banyak pohon pinus dan pohon rindang yang berjejer, jadi berasa sejuk. Tapi pemikiran liar saya malah lari ke hutan yang dipertontonkan di film NatGeo, Twilight, atau lebih alay lagi, GGS. Adik saya asik menikmati pemandangan seraya bernyanyi.

Setelah sekian lama berada dalam mobil, akhirnya kami melihat tugu Ayam Kukuak Balenggek! Tugu itu sangat terkenal, dan taman di dekatnya sering dijadikan tempat piknik dan foto-foto a la instagram. Nah, setelah itu mobil pun bertemu simpang tiga, berbelok dan angin dari hutan dan kebun teh resmi membuat saya terharu. Ternyata kebun teh gak jauh dari rumah saya ya :’)

Pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi jalan raya Padang-Alahan Panjang membuat saya teringat pohon-pohon yang tumbuh di Afrika. Bagaimana tidak? pohon-pohon itu benar-benar persis jenis pohon yang saya lihat di film Madagaskar. Pohon-pohon itu menjulang, melindungi jalan dari teriknya panas pada siang itu. Dibalik pohon-pohon itu, terbentang kebun teh yang teratur. Di tepi jalan kebun teh juga ada penjual jagung rebus dan jagung bakar,lho. Siapa tahu pada mau makan jagung pakai sayur kol sambil menikmati sejuknya tumbuhan teh.

Setelah 4 jam perjalanan, akhirnya tampaklah danau diatas dari jalan yang kami lalui. Danau yang membentang biru dan tepian hijaunya terlihat eksotis, apalagi melihat sedikit ujung merah dari pohon cengkeh. Tak jauh dari jalanan itu ada perempatan. Jika kita belok ke kiri, kita akan menuju dermaga Danau Diatas, jika belok ke kanan, kita akan melihat panorama danau dibawah. Kedua destinasi wisata tersebut hanya membayar per orangnya 2000 rupiah untuk dewasa dan 1500 rupiah untuk anak-anak.

Pertama kami menuju dermaga terlebih dahulu. Dari balik barisan pinus, kita dapat melihat panorama tepi danau alami yang belum tersentuh. Selain itu juga ada warung yang menjual makanan. Banyak pengunjung yang memancing di tepian danau, sembari menikmati keindahan alam. Juga banyak yang memanfaatkan panorama alam untuk swafoto, sebagaimana yang dilakukan oleh Tasya adik saya. โ€œPemandangan yang bagus seperti ini sayang dilewatkan,โ€ ujarnya.

Ya, memang seindah itu. Bahkan kalau pun bukan untuk swafoto pun, fotografer pasti menyukai tempat ini. Ketenangan dermaga dengan kapal kecil yang kadang digunakan, pohon pinus serta tumbuhan air yang belum terekspos oleh banyak media, tentunya karena titik yang satu ini tidak terlalu menjadi favorit pada masa itu.

Setelah puas menikmati pemandangan di dermaga, kami berbalik arah menuju panorama Danau Dibawah. Jalan yang sempit menyulitkan mobil kami untuk berjalan, karena ada mobil dan motor lainnya dari arah yang berlawanan. Sesampainya di tempat parkir, kami langsung dihadapkan pada danau yang kebiruan dan tepian pohon hijau yang menyejukkan. Kita juga dapat melihat kampung kecil dari panorama.

Di panorama juga banyak toko bunga yang menjual berbagai bunga yang biasa hidup di daerah pegunungan. Bahkan ada yang tumbuh di dalam hutan di sekitar danau. Bunga-bunga dengan berbagai warna dan bentuk memenuhi toko-toko bunga yang tersebar diseluruh area panorama. Menurut salah satu penjual bunga, harga bunga-bunga tersebut berkisar dari 10.000 rupiah hingga ratusan ribu rupiah.

Meskipun kita tak dapat melihat Danau Dibawah dari dekat, panorama danau ini membuat saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Sembari meminum teh hangat, saya duduk di antara keluarga saya, menikmati keindahan yang memberikan rasa sejuk dan lega. Meskipun tempat ini menjadi titik favorit dan cukup ramai, kami sekeluarga masih bisa bersantai dengan tenang di panorama.

Selepas dari panorama, kami bingung mobil harus dikeluarkan ke mana karena saat itu jalanan penuh dengan kendaraan (sungguh favorit tempat ini). Akhirnya kami memutuskan untuk belok kanan dan melihat pemandangan Danau Dibawah lebih dekat. Danau yang tampak biru kehijauan, bukit-bukit yang masih hijau dengan rumah warga di beberapa titik memberikan kesan asri pedesaan yang sering orangtua saya rindukan. Keasrian desa yang belum terekspos oleh tangan manusia proyek *ups

Kami sempat melihat beberapa rumah petani bawang merah dan membeli beberapa dari mereka, lalu melanjutkan perjalanan ke Solok. Bagi saya, perjalanan yang satu ini sangat berkesan dan meninggalkan banyak dokumentasi pemandangan. Hitung-hitung kalau saya butuh gambar hutan di wallpaper laptop saya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚